Jumat, 24 Juni 2011

Kekerasan Ereksi Optimal Pengaruhi Kepuasan Seksual

Kekerasan ereksi optimal pengaruhi kepuasan seksual . (Foto: Corbis) 
 
SELAIN memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, pria dengan ereksi tidak maksimal lebih sering mengalami masalah kesehatan. Kepuasan terhadap kekerasan ereksi berkaitan erat dengan kepuasan seksual, kepuasan hidup secara umum, kebahagiaan dalam hidup berkeluarga, dan dalam peran individu sebagai pasangan suami istri.

"Kalau ereksi tidak optimal (EHS 4) walaupun tidak ada yang tahu tapi dia akan minder, dia merasa tidak confidence," kata Dr Heru H Oentoeng M Repro SpAnd dari Asosiasi Seksologi saat konferensi pers Ideal Sex Survey 2011, di Plaza Semanggi, Jakarta, Kamis (23/6/2011).

Lantas, apa yang dimaksud dengan disfungsi ereksi (DE) dan bagaimana ciri-cirinya?

"Disfungsi ereksi adalah keadaan di mana seorang pria tidak mampu mencapai ereksi yang baik atau tidak mampu memulai dan mempertahankan ereksi. Ketika pria terangsang, maka Mr P bisa ereksi, namun ereksi tersebut bisa hilang dengan tiba-tiba. Kondisi itulah yang disebut disfungsi ereksi," jelas Spesialis Andrologi yang berpraktek di Siloam Hospital itu.

Tingkat kekerasan ereksi (EHS) juga dikaitkan dengan kebahagiaan pria. Hasil survei PT Pfizer Indonesia Ideal Sex Survey 2011 menunjukkan bahwa pria dengan kualitas ereksi EHS 4 "timun" merasa dua kali lebih puas dengan hubungan rumah tangganya dibandingkan dengan pria EHS 3 "sosis". Pria EHS 4 merasa lebih percaya diri dan puas sebagai pasangan intim ideal, suami bijaksana, dan memiliki stamina yang baik.

Kekerasan ereksi bisa diukur dengan Erection Hardness Score (EHS), yakni skala ukur tingkat kekerasan ereksi yang dikembangkan oleh Pfizer. Dengan EHS, para praktisi kesehatan profesional dapat memonitor kemajuan pengobatan disfungsi ereksi (DE) dan memberikan dosis efektif yang dibutuhkan oleh pasien.

Menurut EHS, kekerasan ereksi terbagi atas empat kategori. Skala EHS 1 (satu) dinamakan severe erectile dysfunction, yakni Mr P membesar tapi tidak keras, seperti tapai. Skala EHS 2 (dua) dinamakan moderate erectile dysfunction, yakni Mr P keras tetapi tidak cukup keras untuk melakukan penetrasi, seperti pisang. Skala EHS 3 (tiga) dinamakan suboptimal erection, yakni Mr P cukup keras untuk melakukan penetrasi tetapi tidak sangat keras (suboptimal), seperti sosis. Dan skala EHS 4 (empat) dinamakan optimal erection, yakni keadaan di mana Mr P keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, seperti ketimun.

Kekerasan ereksi dapat ditingkatkan dengan terapi medis yang teruji secara klinis dan didapatkan dari tenaga medis profesional. Namun sayang, pria dan wanita di Indonesia masih kurang nyaman mendiskusikan fungsi ereksi dengan dokter mereka. Padahal menyambangi para praktisi kesehatan profesional dapat memonitor kemajuan pengobatan DE dan memberikan dosis efektif yang dibutuhkan oleh pasien.

Tak hanya untuk wanita, senam kegel juga menjadi jalan keluar bagi masalah DE. Pada pria untuk mengendalikan ejakulasi (ejakulasi prematur), juga memperbaiki fungsi ereksi. Otot-otot dasar panggul aktif bekerja saat hubungan seksual, termasuk pada proses ereksi.

"Senam kegel berhubungan dengan wanita, yang sudah pernah ikut senam aerobik. Secara teoritis otot-otot panggul pria juga berperan dalam proses ereksi," papar Dr Rachmad Wisnu Hidayat SpKO pakar, kedokteran FKUI di kesempatan yang sama.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More